Rachmasesilliand's Blog

Hubungan Vegetarian dengan Penyakit Jantung & Pembuluh Darah

Posted on: January 8, 2010

PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH

Ischemia adalah istilah medis bagi keadaan putusnya aliran darah dan jaringan yang disebabkan oleh penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, oksigen menjadi kurang dan menyebabkan matinya jaringan (necrosis). Jika ini meluas hingga mencapai daerah fungsi, maka ini disebut infarct.

Pembuluh-pembuluh darah yang mengelilingi jantung dan menyediakan oksigen bagi jaringan ototnya (myocardium) disebut arteri koronoria (karena bentuknya yang menyerupai mahkota di atas jantung). Pada saat pembuluh ini, atau arterioles (pembuluh halus), tersumbat maka akan menyebabkan myocardial infarction (MI). Sejauh ini penyebab paling umum dari penyumbatan ini adalah penumpukan atherosclerotic plaque (plak), unsur kekuningan yang menyerupai sereal, tapi sebagian besar terdiri dari kolesterol. Saat plak ini berada dalam pembuluh halus, penyakitnya disebut arteriosclerosis, pada saat berada di pembuluh ukuran sedang atau yang lebih besar, hanya disebut dengan atherosclerosis.

Penyakit jantung koroner (CHD) adalah penyakit yang melibatkan aliran darah jantung, sejauh ini sebagian besar penderita penyakit ini disebabkan oleh atherosclerotic plaque. Penimbunan plak juga bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah (hypertension). Semakin mengecilnya pembuluh, semakin tinggi tekanan darah yang harus dipompa ke seluruh tubuh. Hipertensi biasanya tidak memiliki gejala, hingga putus atau pecahnya pembuluh darah. Stroke akan terjadi bila terjadi pecahnya pembuluh darah yang menuju otak.

Tidak hanya lemak hewani, tapi juga protein hewani yang secara langsung dikaitkan dengan meningkatnya resiko penyakit jantung [diuraikan secara rinci oleh K.K. Carroll dalam “Dietary Protein and Heart Disease” dalam Nutrition and the M.D., Juni 1985]. CHD dan stroke masing-masing merupakan penyebab kematian pertama dan ketiga di Amerika Serikat.

Penelitian penting yang menunjukkan peningkatan kolesterol darah sebagai faktor resiko bagi CHD adalah Farmingham Heart Study yang dimulai sejak 1949 di bawah pengawasan Dr. William Castelli. Lebih dari 5,000 orang dewasa berumur antara 30 hingga 62 dipilih dari kota Massachusetts, dan diberi pemeriksaan medis untuk hidup mereka selanjutnya (sekitar setengahnya masih hidup hingga 1985). Penelitian lebih lanjut menunjukkan  bagaimana faktor pola makan seperti kolesterol, lemak jenuh, protein hewani (dilaporkan dalam Nutrition Today 21 (2):26,1986) begitu juga dengan faktor bukan pola makan (merokok, kurang olah raga) dapat mempengaruhi kolesterol darah.

Sebagian penelitian jangka pendek (sering menggunakan sponsor yang tidak benar) melaporkan hasil yang berbeda. Sebuah pendekatan yang salah memperkirakan bahwa kemajuan kecil dalam pola makan (misalnya merendahkan konsumsi lemak dari 40% kalori menjadi 30%) seharusnya memiliki keuntungan yang dapat diukur. Namun ini tidak sering terjadi, kemudian ditarik suatu kesimpulan bahwa lemak bukanlah penyebabnya. Pendekatan yang terlalu moderat seperti ini mungkin dilakukan karena sebagian mengkhawatirkan bahwa pola makan kurang dari 30% kalori lemak mungkin adalah tidak baik karena ini dapat menurunkan kolesterol HDL (jenis yang “baik”). Memiliki kolesterol HDL yang tinggi bisa berperan sebagai pelindung bila keseluruhan kolesterolnya tinggi. Jika total kolesterol rendah, ini tidak memiliki dampak nyata bagi resiko penyakit.

GAGAL JANTUNG KONGESTIF

Pada saat jantung secara bertahap kehilangan kemampuannya untuk berfungsi secara normal (paling sering disebabkan oleh komplikasi atherosclerosis), maka berbagai kelainan tubuh mulai bermunculan yang kemudian berakibat pada keadaan di mana ginjal tidak mampu membuang sodium secara cukup. Ini menyebabkan penyimpanan cairan (air tersisa dengan garam) yang dikenal sebagai edema. Semua sistem organ dipenuhi oleh cairan, dan pada akhirnya terjadi kegagalan jantung karena tersesak (congested) oleh berbagai cairan dalam tubuh.

Terapi pola makan yang mengiringi pengobatan medis untuk penyakit demikian adalah pembatasan sodium. Tergantung dari keparahan penyakit tersebut, pembatasannya bisa  hanya berupa “tanpa tambahan garam” (jumlah Na yang diijinkan sebesar 4,000 mg) hingga pembatasan yang ketat (jumlah Na yang diijinkan hanya sebesar 250 mg). Tingkat menengah (dan yang lebih umum) adalah “pembatasan ringan” (2,500 mg), “pembatasan sedang” (1,000 mg) dan “pembatasan ketat” (500 mg).

Banyak orang beranggapan salah bahwa kelebihan garam adalah penyebab awal dari keadaan demikian. Ini tidak benar. [Hal tersebut mirip dengan anggapan yang salah terhadap diabetes mellitus di mana gula dibatasi walaupun bukan penyebab dari penyakit tersebut.] Pada dua keadaan demikian, lemak merupakan penyebab utamanya, dan dalam mengatasi lemak-lemak tersebut maka timbul keadaan-keadaan demikian. Pembatasan garam dan gula diperlukan (setidaknya untuk sementara) untuk memperlambat komplikasi lebih jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Categories

Archives

%d bloggers like this: